• Home
  • About Me
  • Katalog
  • Video
  • Daftar Isi

Jumat, 27 September 2013

Kandungan Merkuri dan Timbal Pada Bahan Listrik

KANDUNGAN MERKURI (Hg) DAN TIMBAL (Pb) PADA BAHAN LISTRIK


          Bahan yang digunakan untuk pembuatan peralatan dan komponen kelistrikan sangat beragam dan statis. Bahan tersebut mempunyai spesifikasi sendiri yang berbeda dengan bahan lain, sebagai contoh : dari bahan padat (logam, polimer), gas (Neon, Nitrogen), cair (minyak trafo). Meskipun bahan tersebut mempunyai daya guna, perlu di ingat bahwa bahan-bahan tersebut juga mempunyai sifat yang berbahaya. Jadi dalam hal ini sangat penting untuk mengetahui sifat dari bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan peralatan dan komponen kelistrikan. Dan yang akan dibahas dalam pokok bahasan kali ini adalah Merkuri atau Hygragyrum (Hg) dan Timbal atau Plumbum (Pb).

A. Merkuri atau Hygragyrum (Hg)
Merkuri atau Hygragyrum (Hg) adalah termasuk bahan logam yang jika dalam keadaan standar berbentuk cair yang disebut “Quicksilver”. Merkuri mempunyai daya hantar panas yang rendah bila dibandingkan dengan logam jenis lain, tapi memiliki daya hantar listrik yang kuat.
Karakteristik Merkuri :
- Nomor Atom                 :      80
- Nomor Massa               :      200,59
- Titik Leleh                      :      234,28 K (-38,72°C)
- Titik didih                       :      629,73 K (350,73°C)
- Struktur Atom                :      80 proton, terbagi dalam 7 tingkat energi
          Merkuri dapat bergabung dengan zat kimia lain seperti klorin, karbon atau oksigen membentuk merkuri organik maupun anorganik. Merkuri Organik dinamakan Methylmercuri atau Merkuri (II) CH3HG yang banyak terdapat pada Ikan tuna yang sebagian besar merupakan racun bagi manusia. Merkuri termasuk jenis logam berat, dan jenis yang banyak digunakan, antara lain :
1. Merkuri Klorida (HgCl2), merupakan racun yang sangat mematikan dan bersifat korosif
2. Mercurous Chloride (Hg2Cl2), banyak digunakan dibidang medis
3. Mercuryfulminate (Hg(ONC)2), sebagai detonator untuk bahan peledak
4. Mercuric Sulphide (HgS), sebagai bahan cat pewarna yang kuat 
          Merkuri terdapat diatmosfir sekitar 930 ton dalam bentuk gas. Merkuri terdapat di udara sekitar 2,4 ppt (per trilion part) dan sebagian besar berbentuk anorganik, sedangkan di air sekitar 25 ppt. Pada pemanfaatannya Merkuri banyak digunakan dalam :
1.  Tabung Fluorescent pada lampu 
a. HID (High Intensity Discharge)
b. Metal Halida
c. Tabung Lampu Neon
d. Sodium Tekanan Tinggi
2.  Thermostat non elektronik
3.  Lampu Indikator pada :
a. Kompor listrik
b. Oven listrik
c. Pengering pakaian
d. Tungku listrik
e. Pemanas ruangan
4.  Saklar dan relay pada :
a. Kulkas
b. Mesin cuci sebelum tahun 1972
c. Pompa
d. Saklar cahaya
e. Kendaraan Bermotor
f. Alat Pertanian
g. Pemanas ruangan
h. Setrika listrik
i. Layar display (monitor)
j. Kristal osilator
k. Batteray Mercuric Oxide
l. Batteray Alkaline
          
B. Timbal atau Plumbum (Pb)
          Menurut laporan Bank Dunia pada tahun 1992, diketahui bahwa akibat timbal menimbulkan 350 kasus penyakit jantung koroner, 62.000 kasus hipertensi dan dapat menurunkan IQ hingga 300.000 point. Timbal (Pb) juga dapat menurunkan kemampuan darah untuk meningkatkan oksigen. Timbal masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan sekitar 85%, melalui pencernaan sekitar 14%, dan melalui kulit sekitar 1%, setelah seseorang tersebut berada dalam udara yang tercemar timbal.
            Setiap paparan udara yang tercemar timbal sebesar 1 pg/m3 berpeluang menyumbang 2,5 – 5,3 ug/dl timbal pada darah seseorang yang berada di tempat tersebut. Sementara hasil pemantauan kadar timbal di udara untuk daerah pemukiman di Jakarta selama kurun waktu 1994 – 1998 menunjukkan kisaran 0,2 – 1,8 ug/m3, ini berarti keadaan udara di Jakarta sudah pada tingkat yang cukup membahayakan, mengingat telah melampaui angka ambang atas. Ketika akumulasi timbal dalam darah seorang anak mencapai 10 ug/dl maka dapat terjadi penurunan IQ sebesar kurang lebih 2,5 point. Apabila hal tersebut terjadi pada orang dewasa, maka efek yang timbul adalah gejala berbagai penyakit. Meningkatnya penderita penyakit tersebut di kalangan masyarakat akan membawa dampak menurunnya produktifitas kerja di satu sisi dan meningkatnya pengeluaran untuk biaya pengobatan di sisi lain.
            Secara makro ekonomi, penerapan kebijakan konversi energi bersih dimaksudkan untuk menciptakan efisiensi melalui penurunan social cost dan restrukturisasi biaya produksi energi. Penurunan social cost ditempuh dengan konversi komponen material produksi aditif yang ramah lingkungan hidup, aman terhadap manusia dan tidak menimbulkan polutan yang beracun. Ramah lingkungan hidup dalam arti bahwa material energi dan sisa buangan hasil pembakaran tidak menimbulkan ketidakseimbangan ekologi baik lokal seperti polusi udara, maupun global seperti efek rumah kaca. Aman terhadap manusia dan tidak menimbulkan polutan yang beracun berarti tidak menimbulkan gangguan yang dapat mempengaruhi kinerja produktifitas manusia, mempengaruhi kesehatan manusia baik fisik maupun psikis. Dalam kajian ekonomis baik ramah terhadap lingkungan hidup, aman dan tidak menimbulkan polutan yang beracun, berarti tidak mempengaruhi perikehidupan manusia atau dengan kata lain tidak menurunkan derajat kesejahteraan masyarakat, sebagai dampak dari sisa buangan energi yang tidak bersih di atas. Tentu saja secara finansial akan meningkatkan biaya (cost) yang harus ditanggung oleh masyarakat, baik itu berupa biaya pengobatan atas sakit yang diderita, menurunnya produktifitas kerja akibat polusi udara maupun menurunnya tingkat kenyamanan hidup.
          Dalam kondisi demikian tentu masyarakat menanggung beban biaya sosial atas berbagai dampak dari polutan tersebut. Kegiatan pembangunan dalam sektor perhubungan misalnya menunjukkan adanya proses percepatan yang ditandai dengan tingkat kebutuhan pada sektor ekonomi namun mengalami stagnasi semenjak Januari 1998. Pertambahan jumlah kendaraan yang pesat ini khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta menimbulkan implikasi langsung berupa kemacetan juga menimbulkan implikasi yang tidak langsung berupa kompleksitas akumulasi gas buang kendaraan yang menyebabkan udara semakin memburuk.
          Seperti halnya merkuri (Hg), timbal (Pb) juga banyak terkandung pada bahan-bahan pembuatan peralatan dan komponen listrik terutama pada bahan pembuatan bateray dan aki (accumulator) baik accu kering maupun accu basah.

Gambar 1. Accu kering (lead acid) yang banyak mengandung timbal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar