• Home
  • About Me
  • Katalog Buku
  • Video
  • Daftar Isi Buku

Jumat, 27 Maret 2015

Sensor Cahaya Photo Transistor

          Sekarang saatnya melanjutkan bahasan kita mengenai sensor dan tranduser, kali ini kita akan membahas tentang sensor cahaya photo transistor. Oke sobat untuk memahaminya langsung saja sobat simak uraian di bawah ini.
        Photo transistor merupakan jenis transistor yang bias basisnya berupa cahaya infra merah. Besarnya arus yang mengalir di antara kolektor dan emitor sebanding dengan intensitas cahaya yang diterima photo transistor tersebut. Simbol dan bentuk photo transistor ditunjukan seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 1. Simbol dan bentuk photo transistor

Prinsip Kerja Photo Transistor
          Photo transistor sering digunakan sebagai saklar terkendali cahaya infra merah, yaitu memanfaatkan keadaan jenuh (saturasi) dan mati (cut off) dari photo transistor tersebut. Prisip kerja photo transistor untuk menjadi saklar yaitu saat pada basis menerima cahaya infra merah maka photo transistor akan berada pada keadaan jenuh (saturasi) dan saat tidak menerima cahaya infra merah photo transistor berada dalam kondisi mati (cut off) atau saklar terbuka.

Gambar 2. Titik cut-off transistor

Stuktur photo transistor mirip dengan transistor bipolar (bipolar junctoin transistor). Pada daerah basis dapat dimasuki sinar dari luar melalui suatu celah transparan dari luar kemasan taransistor. Celah ini biasanya dilindungi oleh suatu lensa kecil yang memusatkan sinar di tepi sambungan basis emitor.

Gambar 3. Bentuk nyata photo transistor 2 kaki

Gambar 4. Bentuk nyata photo transistor 3 kaki

          Prinsip kerja sensor photo transistor sambungan antara basis dan kolektor, dioperasikan dalam catu balik dan berfungsi sebagai photo dioda yang merespon masuknya sinar dari luar. Bila tak ada sinar yang masuk, arus yang melalui sambungan catu balik sama dengan nol. Jika sinar dari energi photon cukup dan mengenai sambungan catu balik, penambahan pasangan hole dan elektron akan terjadi dalam depletion region, menyebabkan sambungan menghantar. Jumlah pasangan hole dan elektron yang dibangkitkan dalam sambungan akan sebanding dengan intensitas sinar yang mengenainya. Sambungan antara basis emitor dapat dicatu maju, yang menyebabkan piranti ini dapat difungsikan sebagai transistor bipolar konvensional.
          Arus kolektor dari photo transistor diberikan oleh terminal basis dari photo transistor tidak membutuhkan sambungan (no connect) untuk bekerja. Jika basis tidak disambung dan VCE adalah positif, sambungan basis kolektor akan berlaku sebagai photo dioda yang dicatu balik. Arus kolektor dapat mengalir sebagai tanggapan dari salah satu masukan, dengan arus basis atau masukan intensitas sinar L1.

Gambar 5. Karakteristik photo transistor

Aplikasi Photo Transistor
          Contoh rangkaian dasar sensor Photo Transistor ditunjukan seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 6. Rangkaian dasar photo transistor

          Komponen sensor photo transistor ini memiliki sifat yang sama dengan transistor yaitu menghasilkan kondisi cut off dan saturasi. Perbedaannya adalah, bilamana pada transistor kondisi cut off terjadi saat tidak ada arus yang mengalir melalui basis ke emitor dan kondisi saturasi terjadi saat ada arus mengalir melalui basis ke emitor maka pada phototransistor kondisi cut off terjadi saat tidak ada cahaya infrared yang diterima dan kondisi saturasi terjadi saat ada cahaya infrared yang diterima.
          Kondisi cut off adalah kondisi di mana transistor berada dalam keadaan OFF sehingga arus dari collector tidak mengalir ke emitor. Pada rangkaian gambar 6 diatas, arus akan mengalir dan membias basis transistor Q1 C9014. Sedangkan kondisi saturasi adalah kondisi di mana transistor berada dalam keadaan ON sehingga arus dari collector mengalir ke emitor dan menyebabkan transistor Q1 tidak mendapat bias atau OFF.
          Photo transistor type ST8-LR2 memiliki sudut area 15 derajat dan lapisan pelindung biru yang melindungi sensor dari cahaya-cahaya liar. Pada photo transistor yang tidak dilengkapi dengan lapisan pelindung ini, cahaya-cahaya liar dapat menimbulkan indikasi-indikasi palsu yang terkirim ke CPU dan mengacaukan proses yang ada di sana. Aplikasi photo transistor ST8-LR2 sebagai sensor peraba adalah digunakan bersama dengan LED Infrared yang dipancarkan ke permukaan tanah. Apabila permukaan tanah atau lantai berwarna terang, maka sinyal infrared akan dikembalikan ke sensor dan diterima oleh photo transistor ST8-LR2. Namun bila permukaan tanah atau lantai berwarna gelap, maka sinyal infrared akan diserap dan hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang kembali. Cara merangkai photo transistor ST8-LR2 dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 7. Rangkaian dasar photo transistor ST8-LR2

Gambar 8. Rangkaian photo transistor ST8-LR2 bersama LED

          Photo transistor merupakan sensor cahaya yang dapat digunakan untuk aplikasi dengan cahaya infra merah dan cahaya matahari. Photo transistor dapat dioperasikan secara langsung untuk mendapatkan logika output dari perubahan cahaya yang diterima oleh photo transistor tersebut atau dengan menambahkan penguat transistor untuk meningkatkan performa dan kecepatan respon photo transistor. Rangkaian dasar yang dapat digunakan untuk mengaplikasikan photo transistor sebagai sensor cahaya dapat menggunakan rangkaian sederhana berikut ini.

1. Rangkaian Dasar Dengan Logika HIGH Pada Saat Mendeteksi Cahaya
          Dengan konfigurasi pertama pada gambar di bawah ini photo transistor sudah dapat memberikan logika HIGH pada saat menerima pancaran cahaya. Pada saat menerima cahaya maka nilai konduktifitas kaki kolektor – emitor akan naik sehingga Vout mendapat sumber tegangan dari Vcc melalui kaki emitor photo transistor sehingga Vout berlogika HIGH dan sebaliknya pada saat tidak menerima cahaya maka photo transistor OFF dan Vout dihubungkan ke ground melalui RL sehingga berlogika LOW. Kemudian untuk konfigurasi kedua pada gambar di bawah ini, pada saat photo transistor menerima cahaya maka photo transistor konduk sehingga TR1 tidak mendapat bias basis sehingga TR1 OFF dan Vout berlogika HIGH. Kemudian pada saat photo transistor tidak menerima cahaya makan photo transistor OFF dan basis transistor TR1 mendapat bias maju sehingga TR1 ON dan Vout dihubungkan ke ground melalui TR1 sehingga Vout berlogika LOW.

Gambar 9. Rangkaian dasar dengan Logika High pada saat mendeteksi cahaya

2. Rangkaian Dasar Dengan Logika LOW Pada Saat Mendeteksi Cahaya
          Dari rangkaian pertama pada gambar di bawah ini, pada saat photo transistor menerima cahaya maka photo transistor ON sehingga Vout dihubungkan ke ground melalui photo transistor sehingga Vout berlogika LOW dan sebaliknya pada saat tidak menerima cahaya maka photo transistor OFF dan Vout dihubungkan ke Vcc melalui RL sehingga berlogika HIGH. Kemudian untuk konfigurasi kedua dari gambar di bawah ini, pada saat photo transistor menerima cahaya maka photo transistor konduk sehingga TR1 mendapat bias basis sehingga TR1 ON dan Vout dihubungkan ke ground oleh TR1 sehingga Vout berlogika LOW. Kemudian pada saat photo transistor tidak menerima cahaya makan photo transistor OFF dan basis transistor TR1 tidak mendapat bias maju sehingga TR1 OFF dan Vout dihubungkan ke Vcc melalui RL sehingga Vout berlogika HIGH.

Gambar 10 Rangkaian dasar dengan Logika Low pada saat mendeteksi cahaya

3. Rangkaian Light Switch dengan Photo Transistor
          Rangkaian light switch atau saklar terkendali cahaya dapat dibuat dari beberpa macam sensor cahaya. Rangkaian light switch berikut ini dibuat menggunakan sensor cahaya berupa photo transistor. Rangkaian light switch ini sangat sederhana, karena dibuat dengan 1 buah transistor, 1 buah photo transistor, 1 buah relay, 1 bauh variabel resistor dan 1 buah dioda seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Rangkaian light switch ini dapat bekerja pada tegangan 6 – 12 VDC atau tegangan DC yang laian sesuai dengan relay yang digunakan. Untuk mengatur sensitifitas penerimaan cahaya diatur dengan VR1. Rangkaian light switch with photo transistor ini dapat digunakan untuk mengendalikan beberapa lampu secara paralel dengan daya tergantung dari kemampuan relay yang digunakan. Rangkaian light switch with photo transistor ini juga dapat digunakan untuk mengendalikan lampu taman, lampu jalan, atau lampu yang ingin dinyalakan di malam hari saja secara otomatis.

Gambar 11. Rangkaian light switch dengan photo transistor

4. Rangkaian Saklar Infra red

Gambar 12. Rangkaian saklar infrar ed

Gambar 13. Kit PCB saklar infra red

5. Rangkaian penghitung (counter) kendaraan yang lewat dengan sensor infra red

Gambar 14. Rangkaian counter dengan sensor infra red

Gambar 15. Skema counter kendaraan yang lewat dengan sensor infra red

Sabtu, 21 Maret 2015

Buku Perawatan & Perbaikan Sistem Kelistrikan Mobil

          Maaf sobat bloger pembahasan kita tentang sensor dan tranduser ditunda sementara karena ada yang mau lewat (numpang promo) mengenai penerbitan buku "Perawatan dan Perbaikan Sistem Kelistrikan Mobil". Tetapi sebelum membahas tentang penerbitan buku tersebut pada hari ini penulis ingin mengucapkan "Selamat Hari Raya Nyepi" bagi umat Hindu yang merayakannya. Pada hari buku ini telah selesai ditulis sehingga bisa diterbitkan agar sobat bloger bisa memesan dan membacanya. Buku ini ditulis sebagai panduan merawat dan memperbaiki sistem kelistrikan kendaraan mobil yang meliputi sistem starter, sistem pengapian, sistem pengisian, pengujian baterai dan sistem kelistrikan bodi yang terdiri dari sistem lampu penerangan, sistem lampu tanda, sistem klakson, sistem penghapus kaca dan pengaman sistem). Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan daftar isi dari buku ini.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….  i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………..  ii

BAB I : PERAWATAM DAN PERBAIKAN SISTEM STARTER
A.    SISTEM STARTER PADA MOBIL
1.      Fungsi Sistem Starter ………………………………………………….  1
2.      Prinsip Kerja Motor Starter ………………………………………...…  2
3.      Konstruksi Sistem Starter ……………………………………………..  6
a.       Starter Sekrup (Jenis Bendix) ……………………………………..  7
b.      Starter Dorong dan Sekrup ………………………………………. 14
c.       Starter Angker Dorong ……………………………………...…… 21
d.      Starter Batang Dorong Pinion ………………………...………….. 26
4.      Konstruksi dan Prinsip Kerja Kopling ……………………………….. 30
a.       Kopling Jalan Bebas ………………………………………...…… 30
b.      Kopling Plat Ganda ………………………………………………. 32
5.      Macam-Macam Rem Angker ……………………………...………… 36
a.       Rem Angker dengan Plat Rem …………………………………... 36
b.      Rem Angker dengan Pegas Rem dan Plat Pengunci …………….. 36
6.      Konstruksi dan Cara Kerja Starter Reduksi ………………………….. 37
a.       Cara Kerja Starter Clutch ………………………………………… 40
b.      Cara Kerja Magnetic Switch …………………………...………… 41
c.       Cara Kerja Starter Reduksi ………………………………………. 42
B.     PENGETESAN SISTEM STARTER
1.      Penegetesan Tegangan Kerja Motor Stater …………………………... 45
2.      Pengetesan Motor Starter pada Test Bench ………………………….. 49
C.     PERAWATAN DAN PERBAIKAN MOTOR STARTER
1.      Pembongkaran Motor Starter …………………………………...……. 50
2.      Perawatan Komponen-Komponen Motor Starter ……………………. 55
3.      Pengetesan Gulungan Angker Motor Starter ……………...…………. 56
4.      Pengetesan Kumparan Medan Motor Starter ………………………… 57
5.      Pemeriksaan Komutator, Sikat, Pemegang Sikat dan Kopling Jalan Bebas 58
6.      Pembongkaran dan Pengetesan Selenoid …………………………….. 61
7.      Perakitan Motor Starter ………………………………………………. 63
D.    DIAGNOSA GANGGUAN/KERUSAKAN SISTEM STARTER ……… 66 

BAB II : PERAWATAN DAN PERBAIKAN SISTEM PENGAPIAN & INJEKSI
A.    SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL
1.      Penyalaan Sendiri (pada mesin diesel) ………………………...…… 70
2.      Penyalaan dengan Bunga Api Listrik (pada mesin bensin) ………… 70
3.      Sistem Pengapian Baterai ……………………………………...…… 71
a.       Komponen-Komponen Sistem Pengapian Baterai ……………... 71
b.      Rangkaian Sistem Pengapian Baterai …………………...……… 95
c.       Cara Kerja Sistem Pengapian Baterai ………………………….. 95
d.      Saat Pengapian ………………………………………………..... 96
4.      Sistem Pengapian Magnet ………………………………………… 101
5.      Perawatan dan Perbaikan Sistem Pengapian Konvensional………...102
a.       Pemeriksaan Rangkaian Primer ……………………………….. 102
b.      Pembongkaran Kunci Kontak ……………………………...…. 103
c.       Pembongkaran Koil Pengapian ……………………………….. 104
d.      Pembongkaran Tahanan Ballast ………………………………. 105
e.       Pengujian Koil Pengapian ………………………………..…… 106
f.       Pemeriksaan dan Penggantian Kontak Pemutus (Platina)………108
g.      Pemeriksaan Bagian Tegangan Tinggi (Rangkaian Sekunder)…115
h.      Pemeriksaan dan Pemasangan Busi …………………...……… 117
i.        Penyetelan Saat Pengapian ……………………………………. 121
j.        Pemeriksaan dan Pelumasan Advans Centrifugal (Governor)….127
k.      Pemeriksaan dan Pembongkaran Advans Vakum …………….. 132
l.        Pemeriksaan dan Pembongkaran Distributor ………………..... 135
B.     SISTEM PENGAPIAN ELEKTRONIK
1.      Sistem Pengapian CDI …………………………………………….. 139
a.       Prinsip Kerja ……………………………………………...…… 139
b.      Pemeriksaan dan Perbaikan …………………………………… 140
2.      Sistem Pengapian TCI …………………………………………….. 142
a.       Sistem Pengapian TCI-k ………………………………………. 143
b.      Sistem Pengapian TCI-I ………………………………………. 144
c.       Sistem Pengapian TCI-h ………………………………………. 145
3.      Sistem Pengapian Komputer …………………………………….... 145
a.       Sistem Pengapian Komputer dengan Distributor ……………... 146
b.      Sistem Pengapian Komputer tanpa Distributor (DLI)…………..146
c.       Sistem Pengapian Komputer Langsung Individual (DIS)………147
C.     SISTEM INJEKSI ELEKTRONIK
1.      Prinsip Sensor MAP ………………………………………………. 153
2.      Cara Kerja Sensor MAP Mobil Injeksi …………………………… 153
3.      Fungsi Ketiga Terminal Sensor MAP Mobil EFI ………………… 154
4.      Fungsi Terminal Sensor MAP Mobil Honda Genio ………………. 155 

BAB III : PERAWATAN DAN PERBAIKAN SISTEM PENGISIAN
A.    KONSTRUKSI & CARA KERJA GENERATOR (ALTERNATOR)
1.      Konstruksi Generator ……………………………………………. 157
2.      Konstruksi Regulator Tegangan ………………………………… 158
a.       Konstruksi Pemutus Arus (Cut Out) ..……………………….. 158
b.      Konstruksi Pengatur Tegangan ……………………..……….. 159
c.       Konstruksi Pengatur Arus …………………………………… 160
3.      Konstruksi Alternator ……………………….…………………… 161
4.      Fungsi Bagian-Bagian Alternator ……………………………….. 164
a.       Rotor ……………………………………………..…………... 164
b.      Stator ………………………………………………………… 165
c.       Diode Rectifier ………………………………………………. 166
d.      Rumah Alternator (frame cover) …………………………….. 167
e.       Kipas Pendingin (cooling fan) ………………………………. 167
f.       Roda Pully …………………………………………………… 168
5.      Perbedaan Alternator dengan Generator ………………………… 168
6.      Prinsip Kerja Pembangkitan Tegangan pada Alternator…………..169
a.       Magnet Permanen Menghasilkan Tegangan Rendah …………171
b.      Magnet Listrik Menghasilkan Tegangan Tinggi …………...…171
7.      Prinsip Kerja Pembangkitan Tegangan 3 Phase dengan 
      Rangkaian Bintang dan Segitiga ……………………………….. 172
a.       Rangkaian/Sambungan Segitiga (Delta) …………………….. 173
b.      Rangkaian/Sambungan Bintang (Star) ………………………. 175
8.      Prinsip Penyearahan Arus dengan Diode ……………………...… 176
a.       Penyearahan Tegangan Listrik AC 1 Phase………………….. 176
b.      Penyearahan Tegangan Listrik AC 3 Phase …………………. 176
9.      Prinsip Kerja Regulator Tegangan ……………………………..... 177
a.       Regulator Tegangan Konvenional (Mekanik)………………... 177
b.      Regulator Tegangan Elektronik ……………………………... 183
10.  Macam-macam Sistem Arus Medan pada Alternator …………… 184
a.       Sistem Arus Medan Langsung ………………………………. 184
b.      Sistem Arus Medan dengan Relai A ………………………… 184
c.       Sistem Arus Medan dengan Relai B ………………………… 185
d.      Sistem Arus Medan dengan 1 Diode ………………………… 186
e.       Sistem Arus Medan dengan 3 Diode ………………………… 187
B.     SYARAT PENGISIAN DAN CARA PENGUKURAN
1.      Syarat Pengisian …………………………………………….…….188
a.       Menghitung Daya dan Arus Pemakai/Beban Alternator………188
b.      Menentukan Daya Alternator …………………………………188
2.      Cara Pengukuran Output Alternator ……………..……………….189
a.       Mengukur Tegangan dan Arus Alternator ……………………189
b.      Mengukur Kehilangan Tegangan Sistem Pengisian…………..189
c.       Memginterpretasikan Hasil Pengukuran dengan Tabel…....….190
C.     PEMERIKSAAN & PEMELIHARAAN SISTEM PENGISIAN
1.      Mengetes Alternator pada Mobil ……………………………...… 190
2.      Melepas dan Memasang Alternator ………………………...…… 193
3.      Mengetes Alternator pada Test Bench …………………………... 194
4.      Membongkar dan Merakit Alternator …………………………… 195
5.      Mengetes dan Mengganti Diode Alternator ………………...…… 198
6.      Memeriksa Stator dan Rotor Alternator pada Mobil ……………. 200
7.      Mengetes dan Mengganti Regulator Tegangan …………………. 203
8.      Mengetes Alternator Menggunakan Osciloscop…………………. 206
9.      Merangkai Sistem Pengisian Mobil dengan Alternator …..………210
D.    PENYEBAB DAN PERBAIKAN KERUSAKAN SISTEM
PENGISIAN  ………………………………………………………….212

BAB IV : PERAWATAN DAN PERBAIKAN BATERAI
A.    KONSTRUKSI DAN PENGUJIAN BATERAI
1.      Konstruksi Baterai ……………………………………………….. 215
2.      Elektrolit Baterai ………………………………………………… 216
3.      Kotak Baterai ……………………………………………………. 216
4.      Sumbat Ventilasi ………………………………………………… 216
5.      Reaksi Kimia pada Baterai ………………………………………. 217
6.      Rating Kapasitas Baterai …………………………………...……. 217
7.      Cranking Current Ampere (CCA) ………………………….……..218
8.      Reserve Capasity ………………………………………………… 218
9.      Ampere Hour Capasity (AH) ……………………………………. 219
10.  Stiker Spesifikasi Baterai …………………………………...…… 219
11.  Keselamatan Kerja saat Menguji Baterai ………………………... 220
12.  Pertolongan Pertama Kecelakaan Kerja …………………………. 221
13.  Pemeriksaan dan Pengujian Baterai ………...…………………… 222
a.       Pemeriksaan Visual Baterai …………………………………. 222
b.      Pemeriksaan Elektrolit Baterai ……………………………….224
c.       Pemeriksaan Kebocoran Arus Baterai ………………………. 226
d.      Pemeriksaan dengan Tes Beban Baterai …………………….. 227
B.     PENGGANTIAN & PEMBERI BANTUAN BATERAI
1.      Beberapa Faktor yang harus Diperhatikan Sebelum Melepaskan
Baterai …………………………………………………………… 228
2.      Penggantian Baterai ……………….………………………….…. 233
3.      Bantuan Starter …….………………………………………….…. 235
C.     PERAWATAN DAN PENGISIAN BATERAI
1.      Perawatan Baterai ……………………………………………….. 239
2.      Kegiatan dalam Perawatan Baterai ……………………………… 241
a.       Membersihkan Terminal Baterai ……………………………. 241
b.      Memeriksa Elektrolit Baterai ………………………………... 242
c.       Mengisi Baterai ……………………………………………… 246
1)      Pengisian Normal ………………………………………... 246
2)      Pengisian Cepat ……………………………………….…. 253
3.       Penyebab Aki Mobil Drop atau Soak ………………………..…. 254

BAB V : PERAWATAN DAN PERBAIKAN SISTEM KELISTRIKAN BODI
A.    SISTEM LAMPU PENERANGAN
1.      Untuk Melihat (Pengemudi) ………………………………………. 258
2.      Yang Terlihat Orang Lain pada Malam Hari …………………...… 259
3.      Macam-Macam Lampu Pijar ……………………………………… 260
a.       Lampu Pijat Biasa …………………………………………….. 260
b.      Sendok (Tundung) Lampu Pijar Asimetris …………………… 260
c.       Lampu Halogen ……………………………………………….. 261
4.      Lampu Kepala …………………………………………………….. 263
a.       Reflektor ………………………………………………………. 263
b.      Titik Api ……………………………………………………..... 263
c.       Kaca Bias ……………………………………………………… 264
d.      Lampu Jauh ……………………………………...……………. 265
e.       Lampu Dekat ………………………………………………….. 266
f.       Lampu Sealed Beam ………………………………..…………. 266
g.      Aturan Sinar Lampu Kepala ……………………………….….. 267
5.      Proyeksi Sinar Lampu …………………………………………….. 268
a.       Proyeksi Sinar Lampu Kabut …………………………………. 268
b.      Proyeksi Sinar Lampu Dekat Simetris …………………...…… 269
c.       Proyeksi Sinar Lampu Dekat Asimetris Eropa ……………….. 269
d.      Proyeksi Sinar Lampu Dekat Asimetris Amerika …………….. 270
e.       Proyeksi Sinar Lampu Jauh Asimetris Amerika ……………… 270
B.     SISTEM LAMPU TANDA
1.      Lampu Tanda Belok ……………………………………………..... 270
a.       Pengedip Model Bimetal ………………………………....…… 271
b.      Pengedip Model Kawat Panas ………………………………… 272
c.       Pengedip Kondensator/Kapasitor ……………………………... 274
d.      Pengedip Diode/Transistor ……………………………………. 276
e.       Pengedip IC …………………………………………………… 276
2.      Lampu Rem ……………………………………………………….. 279
a.       Lampu Kontrol Rem …………………………………………... 281
b.      Lampu Kontrol Permukaan Minyak Rem …………………….. 282
c.       Lampu Kontrol Tekanan Minyak Rem dg Saklar Mekanis…….282
d.      Lampu Kontrol Tekanan Minyak Rem dg Saklar Hidrolis….….283
e.       Lampu Kontrol Keausan Sepatu Rem ………………………… 284
3.      Lampu Mundur ……………………………………………………. 285
C.     SISTEM KLAKSON
1.      Klakson Listrik Arus Bolak-Balik (AC) …………………..……… 297
2.      Klakson Listrik Arus Searah (DC) ………………………………... 297
a.       Klakson Listrik DC Model Piringan ………………………….. 298
b.      Klakson Listrik DC Model Siput (Spiral) ………………….…. 299
3.      Klakson Udara ………………………………………………….…. 300
a.       Klakson Udara dengan Kompresor Listrik ……………………. 301
b.      Klakson Udara dengan Katup Relai Elektropneumatis
(kompresor rem angin) ………………………………………... 301
D.    SISTEM PENGHAPUS KACA
1.      Rangkaian Motor DC dengan Magnet Permanen ………………..... 305
a.       Satu Kecepatan dg Saklar Pemberhentian Terakhir………...…..305
b.      Dua Kecepatan dengan Tiga Sikat ……………………………..305
2.      Rangkaian Motor DC dengan Magnet Listrik …………………….. 306
a.       Satu Kecepatan ……………………………………………...… 306
b.      Dua Kecepatan ……………………………………………...… 306
c.       Dua Kecepatan dengan Rem Listrik …………………………... 307
d.      Pengatur Waktu (interval) …………………………………….. 307
3.      Lengan Penghapus Kaca ………………………………………….. 309
E.     PENGAMAN SISTEM KELISTRIKAN BODI 
1.      Sekering (Fuse) ……………………………………………...…….. 310
2.      Fuseble Link …………………………………………………...….. 312
3.      Circuit Breaker (CB) ……………………………...………………. 313
4.      Rangkaian Kabel ………………………………………………….. 316
5.      Konektor (Soket) Kabel …………………………………………… 319
F.      PEMERIKSAAN & PENYETELAN SISTEM KELISTRIKAN BODI
1.      Persyaratan Menyetel Lampu Kepala ………………………..……. 320
2.      Menyetel Lampu Kepala ……………………………………..…… 323
3.      Mengganti Bola Lampu Kepala ……………………………...…… 324
4.      Mengganti Bola Lampu Belakang, Lampu Rem & Lampu Mundur.326
5.      Mengontrol kondisi karet dan kelonggaran pada engsel dan bantalan lengan penghapus kaca ……………………………………….…… 326
6.      Mengontrol/menyetel arah semprotan nosel pembasuh kaca,
dengan jarum (kawat yang digerinda pada ujungnya) ……………. 327
7.      Mengganti Sekering yang Putus …………………………………... 327
8.      Memperbaiki Rangkaian Kabel …………………………………… 327
9.      Melepas Konektor (soket) Kabel ………………………………….. 328
10.  Memperbaiki Kerusakan Konektor Kabel ………………………… 329
G.    PENYEBAB DAN PERBAIKAN GANGGUAN SISTEM KELISTRIKAN
1.      Penyebab masalah Lampu Kota menyala saat mengerem ………….331
2.      Perbaikan Lampu Kota menyala saat mengerem ……………...….. 331
3.      Penyebab sekring mobil cepat putus atau sering putus …………… 332
a.       Memilih Sekering berdasarkan ketebalan sekering …………… 332
b.      Memilih sekring berdasarkan ukuran Amper sekring ………… 332
c.       Larangan terhadap sekring mobil untuk menghindari hal-hal
yang tidak diinginkan …………………………………………. 334
4.      Penyebab dan perbaikan sekring mobil yang meleleh ……………. 334
5.      Penyebab audio mobil Toyota Avanza tidak bisa hidup (mati)…….336
6.      Penyebab alarm mobil sering berbunyi sendiri atau berbunyi 
      terus menerus …………………………………………    .………. 337
a.       Sensitifitas dari sensor getar …………………………………... 338
b.      Sensor pintu atau saklar lampu pintu yang tidak baik ………… 340

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………..………………… 341

          Pihak penerbit telah menydeiakan buku ini dalam tiga pilihan bentuk yaitu :
1. Bentuk Buku cetak pada kertas HVS 70 gram (isi) dan Glossy 230 gram (cover) dengan ukuran 28 x 20 cm setebal 352 halaman, hanya seharga Rp. 195.000 (Belum termasuk ongkos kirim, pengiriman via Pos atau JNE)


2. Bentuk Ebook yang dikemas dalam kepingan CD/DVD dengan format file PDF (dapat dibaca dengan program Adobe Reader), hanya seharga Rp. 150.000 (Belum termasuk ongkos kirim, pengiriman via Pos atau JNE).


3. Bentuk Softcopi dengan format file PDF (dapat dibaca dengan program Adobe Reader), hanya seharga Rp. 140.000 (Ongkos kirim gratis, pengiriman via email).

Pemesanan dapat menghubungi KONTAK INI
Pembayaran transfer ke salah satu REKENING BANK INI