• Home
  • About Me
  • Katalog Buku
  • Video
  • Daftar Isi Buku

Jumat, 28 Juli 2017

Pekerjaan Inlet Reaktor Biogas

          Inlet atau tangki pencampur adalah tempat mencampur kotoran hewan dengan air sebelum dialirkan ke dalam digester melalui pipa inlet. Biasanya inlet baru dibangun setelah outlet selesai dibangun, namun bisa saja keduanya dikerjakan bersamaan. Pipa inlet ditempatkan sejajar dengan posisi tiang pipa gas utama dan overflow outlet. Ketinggian dasar bangunan inlet dapat ditentukan dengan cara lantai tangki inlet ditempatkan lebih tinggi kira-kira 15 cm dari overflow outlet. Tujuannya adalah agar kotoran hewan tidak kembali keluar melalui inlet, bahkan dapat juga mengakibatkan slurry masuk ke dalam pipa gas utama. Tinggi bangunan inlet minimal 50 cm dan maksimal 100 cm dari tanah dasar, dengan diameter inlet 60 cm. Untuk mengaduk kotoran hewan inlet dibangun dengan memasang mixer didalamnya.Mixer dapat bermacam-macam modelnya. Yang penting diperhatikan adalah bahwa pada saat mengaduk mixer tidak terkena dinding inlet, serta ketinggiannya diatur sedemikian rupa sehingga nyaman waktu digunakan.

Gambar 1. Mixer untuk mengaduk pada pipa inlet

          Pada saat ketinggian bundaran lubang telah mencapai 45 cm, batang pengikat mixer harus dipaskan untuk mengencangkan mixer. Pisau mixer berada maksimal 3 cm dari dasar Inlet. Jika pengguna menginginkan kotoran dari toilet dimasukkan ke dalam reaktor maka pipa inlet yang berasal dari toilet tidak boleh lebih 30° dari garis lurus dan 15 cm diatas ketinggian dari overflow outlet. Letak inlet bergantung kepada kondisi dari lokasi dan permintaan pengguna, apakah tepat di atas mulut pipa inlet atau dekat dari kandang sehingga jauh dari mulut pipa inlet. Langkah-langkah pemasangan inlet adalah sebagai berikut :
1. Gambarkan di atas tanahlay out untuk pondasi inlet berupa lingkaran dengan diameter sebesar diameter luar inlet ± 5 cm.

Gambar 2. Menggambar lay out inlet di atas tanah

2. Gali tanah untuk menyesuaikan ketinggian dasar inlet dengan yang ditentukan (lihat gambar 3).

Gambar 3. Menggali tanah untuk menyesuaikan dasar inlet

3. Susun batu bata, atau batu atau kerikil pada lubang pondasi yang telah digali tadi. Pasang as dari kayu atau pipa besi (pipa besi bekas as dari pengecoran kubah). Selanjutnya isi celah-celah batu bata dengan pasir atau pasir dari sisa pengayakan.

Gambar 4. Menyusun bata dan menghamparkan pasir

4. Hamparkan  adukan  beton 1 : 3 : 5 atau 6  dengan  ketebalan  5 – 7 cm. Untuk bekisting dapat digunakan batu bata.

Gambar 5. Mengecor lantai dasar inlet

5. Gambarkan kembali lay out inlet di atas pondasi inlet untuk pasangan dinding batu bata.

Gambar 6 Menggambar lay out inlet di atas pondasi

6. Pasang batu bata dan pipa saluran dari inlet menuju mulut pipa inlet.

Gambar 7. Memasang bata dan pipa saluran

7. Pasang kotak pada mulut pipa inlet.

Gambar 8. Memasang kotak pada mulut pipa inlet

8. Pada saat pasangan batu bata mencapai ketinggian 45 cm, maka lakukan setting out mixer pada inlet.

Gambar 9. Mensetting out mixer pada Inlet

9. Kemudian cabut kembali mixer dan lakukan finishing pada inlet.

Gambar 10. Melakukan finishing inlet sebelum memasang mixer

10. Kemudian pasang kembali mixer dan selesaikan sisa batu bata yang belum terpasang.

Gambar 11. Memasang mixer dan finishing kembali inlet

Gambar 12. Inlet yang telah siap digunakan

          Selanjutnya untuk inlet yang terbuat dari pasangan batu kali, langkah-langkah pemasangan tidak jauh berbeda dengan inlet yang terbuat dari pasangan batu bata, sebagaimana ditunjukkan pada gambar-gambar berikut ini.

Gambar 13. Menggambar lay out inlet

Gambar 14. Memasang batu kali dan pipa saluran

Gambar 15. Memasang dinding inlet

Gambar 16. Melakukan finishing inlet sebelum memasang mixer

Gambar 17. Inlet dari pasangan batu kali siap digunakan

          Perhatikan gambar di atas, terlihat bahwa ada pipa PVC yang menonjol.Pipa tersebut dimaksudkan untuk disambung ke toilet (jamban) keluarga. Perlu diketahui bahwa inlet untuk reaktor biogas yang menggunakan kotoran babi sedikit berbeda dengan yang menggunakan kotoran sapi. Adapun perbedaan pada inlet reaktor biogas yang menggunakan kotoran babi adalah sebagai berikut :
1)      Inlet tidak menggunakan mixer,
2)      Tinggi Inlet 25 – 45 cm,
3)      Ada penambahan tandon untuk tempat mencampur kohe babi,
4)      Ukuran (dalam) Tandon 1,50 m x 1,00 m x 0,30 m (tidak mutlak), boleh 1,20 x 1,20 x 0,20 dan sebagainya.

          Untuk point 2) dan 4), tergantung pada pengisian harian dan keinginan dari penggunanya, ada juga pengguna yang tidak menggunakan tandon.

Gambar 18. Contoh inlet reaktor yang menggunakan kotoran babi

Gambar 19. Contoh inlet reaktor biogas tanpa tandon

Sabtu, 22 Juli 2017

Pekerjaan Outlet Reaktor Biogas

        Outlet reaktor biogas yang disebut juga dengan ruang hidrolis atau ruang pemisah berfungsi sebagai tempat penampungan bio-slurry sebelum dialirkan menuju slurry pit melalui overflow. Outlet sangat penting untuk membantu proses penekanan gas di dalam kubah reaktor untuk dialirkan ke kompor gas yang berada di dapur. Penggalian untuk ruang outlet dilakukan tepat dibelakang manhole, tingkat kedalaman galian diukur dari lantai digester (tidak termasuk tebal lantai digester). Ukuran harus akurat sesuai kapasitas reaktor biogas, mengingat fungsinya yang sangat penting seperti telah disebutkan di atas.
         Tangki outlet dibuat lebih tinggi dari tanah dasar sekeliling reaktor biogas untuk mencegah masuknya air limpahan dari luar, ketinggian ini adalah sebesar 15 cm dari tanah dasar . Pada outlet perlu dibuatkan lubang kecil atau overflow yang berfungsi untuk mengalirkan bio-slurry pada outlet untuk kemudian ditampung pada slurry pit. Ukuran overflow adalah 10 x 20 cm atau dapat juga dibuat dengan ukuran 15 x 15 cm.
          Langkah-langkah untuk memasang overflow adalah sebagai berikut :
1. Periksa kembali lubang galian yang disediakan untuk outlet. Kemudian ratakan dan bersihkan permukaan tanah dimana outlet akan dipasang.
2. Susun bata sedemikian rupa sebagai lantai kerja. Jangan lupa untuk memeriksa kedataran lantai kerja tersebut. Untuk lantai kerja dapat juga pasangan batu kali tanpa adukan (batu kosong) atau kerakal (agregat kasar dengan ukuran lebih besar dari kerikil).

Gambar 1. Menyusun bata untuk lantai kerja

3. Setelah susunan bata tersebut selesai hamparkan pasir di atas susunan batu bata kemudian gunakan sapu lidi agar pasir masuk ke dalam celah-celah batu bata. Percikkan air ke permukaan lantai kerja, kemudian hamparkan lagi pasir untuk mengisi celah yang terjadi akibat percikan air tadi. Langkah ini persis sama ketika pemasangan lantai kerja pada pemasangan digester.

Gambar 2. Menghampar pasir untuk mengisi celah antar bata

4. Lakukan persiapan untuk pengecoran lantai outlet, diantaranya dengan memasang bekisting pada manhole.

Gambar 3. Memasang bekisting untuk manhole

5. Setelah persiapan selesai hamparkan adukan beton ke atas lantai kerja. Campuran untuk lantai kerja adalah 1 : 3 : 5 atau 6. Kemudian rapikan permukaan lantai dasar outlet.

Gambar 4. Mengecor lantai outlet reaktor biogas

6. Setelah lantai dasar outlet kering, lakukan persiapan untuk memasang dinding outlet, antara lain dengan membuat profil untuk pemasangan batu bata.

Gambar 5. Memasang profil pasangan pada lantai outlet reaktor biogas

7. Sebelum melaksanakan pekerjaan pasangan bata lakukan lay out dengan cara menyusun batu bata tanpa adukan.

Gambar 6. Menyusun bata tanpa adukan semen

8. Pasang batu bata lapis demi lapis. Tetap periksa ketegakan, kedataran, kerataan dan kelurusan pasangan.

Gambar 7. Menyusun pasangan bata untuk diinding outlet reaktor biogas

9. Kamprot dinding outlet sebagai persiapan pemlesteran. Bagian luar dari dinding tidak perlu diplester, melainkan hanya dikamprot saja.

Gambar 8. Mengkamprot dan memplester dinding outlet reaktor biogas

10. Buatlah Overflow pada outlet dengan ukuran 10 x 20 cm, Overflow berfungsi untuk mengalirkan bio-slurry dari Outlet ke lubang kompos. Lubang outlet dibuat pada saat pekerjaan dinding outlet.

Gambar 9. Membuat overflow pada oulet reaktor biogas

Gambar 10. Outlet reaktor biogas yang telah selesai dan siap digunakan


11. Outlet juga dapat dibuat dari pasangan batu kali.Semua dimensi yang digunakan untuk outlet yang terbuat dari pasangan batu bata dapat digunakan untuk pasangan batu kali.Berikut adalah contoh pemasangan outlet dari pasangan batu kali.

Gambar 11. Outlet reaktor biogas dari pasangan batu kali

Sabtu, 15 Juli 2017

Pekerjaan Turret Reaktor Biogas

          Turret adalah menara kecil yang terdapat di atas kubah reaktor biogas. Fungsi Turret adalah untuk melindungi pipa gas utama agar terlindung dari gangguan yang dapat menyebabkan pipa gas utama bergeser dari posisi semula. Turret dipasang paling lambat sehari setelah kubah dilapisi semen.Jika terlambat, dapat menyebabkan kebocoran antara pipa gas utama dan kubah. Pembangunan menara kecil ini harus dilakukan pada saat beton di permukaan luar kubah kering.
       Menara dapat dibangun dengan menggunakan beton apabila ada sisa adukan dari lapisan kubah.Ukuran menara disesuaikan dengan ukuran batu dan batu bata. Menara boleh berbentuk persegi atau lingkaran. Jika berbentuk persegi ukuran Turret adalah 36 x 36 cm sedangkan apabila dibuat berbentuk lingkaran, diameternya harus sebesar 20 cm. Tinggi menara sekurang-kurangnya adalah 40 cm.
          Langkah-langkah untuk pemasangan Turret adalah sebagai berikut :
1. Jika bahan yang digunakan batu bata maka gambar dulu lay out Turret di atas kubah. Kemudian pasang batu bata. Selalu periksa kedataran, ketegakan, kelurusan dan kerataan pasangan Turret. Pemeriksaan dilakukan setiap pemasangan 1 lapisan selesai.

Gambar 1. Memeriksa kedataran pemasangan bata

2. Periksa kesikuan setiap pemasangan 1 lapisan selesai.

Gambar 2. Memeriksa kesikuan pemasangan bata

3. Lakukan pemplesteran Turret.

Gambar 3. Memplester turret reaktor biogas

4.Lakukan pengacian pada Turret.

Gambar 4. Mengaci turret reaktor biogas

5. Pasanglah Turret dengan menggunakan adukan beton dan berbentuk persegi. Buatlah terlebih dahulu bekisting Turret, kemudian pasang pada Turret dan masukkan adukan beton dengan campuran 1 : 3 : 5 atau 6. Berilah perkuatan untuk menjaga agar bekisting tidak bergeser.

Gambar 5.Memasang bekisting turret berbentuk persegi dari beton 

6. Setelah Turret selesai dicor, maka lakukan pendinginan dengan menutupinya dengan karung basah.

Gambar 6. Turret reaktor biogas yang telah selesai dicor

Kamis, 06 Juli 2017

Buku Merancang, Membangun dan Mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)

             Daerah pedesaan atau daerah terpencil dan tertinggal di seluruh Indonesia memiliki potensi sumber daya air yang dapat dikembangkan menjadi pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). PLTMH merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mendapatkan energi listrik bagi daerah pedesaaan atau daerah tertinggal yang belum terjangkau jaringan listrik PLN. Keberadaan PLTMH sudah menjadi kebutuhan sekaligus alternatif dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi listrik bagi masyarakat di daerah pedesaan dan daerah tertinggal tersebut. Data menunjukkan bahwa terdapat 14.198 desa di Indonesia yang belum memiliki akses listrik yang memadai, padahal desa-desa di daerah terpencil atau tertinggal tersebut secara umum memiliki potensi sumber daya air yang dapat dikembangkan menjadi sumber energi listrik (PLTMH).
        Selain daerah pedesaan, daerah aliran sungai (DAS) di sekitar hutan juga berpotensi dibangunnya PLTMH yang dapat bermanfaat untuk masyarakat sekitar hutan tersebut. Dengan berbasis pada revitalisasi hutan sebagai pengatur tata air yang merupakan salah satu fungsi hutan yang vital bagi hajat hidup masyarakat dengan perhatian utama pada peningkatan kesejahteraan, kesadaran dan kepedulian masyarakat melalui pengembangan manfaat hasil air. Dengan strategi pokoknya adalah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dengan mengoptimalkan manfaat air dari hutan yang langsung dapat diolah dan dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk PLTMH.
          PLTMH adalah pembangkit listrik yang menggunakan tenaga air sebagai sumber energi penggerak utama untuk dapat menghasilkan energi listrik. Energi listrik dapat dihasilkan apabila air sebagai sumber tenaga penggerak bisa tersedia dalam jumlah yang cukup secara terus menerus (kontinu). Dengan demikian, karena PLTMH berbasis masyarakat dan bersifat memenuhi kebutuhan lokal, maka peran serta masyarakat untuk ikut bertanggung jawab atas keberlangsungan PLTMH sangat diperlukan. Tanggung jawab itu adalah mengenai pengelolaan PLTMH, yang mencakup penyediaan, pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan bagian-baigan utama dari sebuah sistem PLTMH seperti :
- Aliran air dari sungai sebagai sumber energi,
- Saluran air,
-Turbin,
- Generator,
- Panel sistem kontrol arus listrik,
- Jaringan distribusi listrik,
- Alat ukur (meteran) daya listrik,
- Instalasi listrik rumah tangga,
- Aspek yang berkaitan langsung dengan manusia sebagai pengguna energi listrik tersebut.

          Nah, bagaimana agar air dapat tersedia dalam jumlah yang cukup secara kontinu, bagaimana merancang turbin agar dapat digerakkan oleh air tersebut, bagaimana membuat komponen PLTMH, bagimana membangun sistem PLTMH secara keseluruhan, dan bagaimana mengelola PLTMH yang telah dibangun atau didirikan agar dapat berlangsung dan bermanfaat bagi masyarakat dalam waktu yang tidak terbatas, semuanya telah dikupas dalam buku ini. Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan daftar isi dari buku ini, yakni sebagai berikut :

DAFTAR ISI BUKU
Kata Pengantar ………………………………………………...………………………    i
Daftar Isi  …………………………………………………………..…………………    ii

BAB I.   PENDAHULUAN ...........................................................................................  1

BAB II. KOMPONEN PLTMH
A.    Aliran Air Sungai ………………………............…………...………...…..  6
B.     Bendungan  …………………...........………………………...…………… 7
C.     Saluran Terbuka (Headrace) …………….…………....………...………...  7
D.    Bak Pengendap/Penenang (Forebay) ……………....……………...…..….  8
E.     Saluran Tertutup/Pipa Pesat (Penstock) ……………………....……...…… 9
F.      Rumah Pembangkit (Power House)
1.      Turbin ................................................................................................... 11
a.       Kincir.Rotor ................................................................................... 14
b.      Badan turbin (Turbine Body) ......................................................... 15
c.       Pengatur Air (Inlet Guide Vane) .................................................... 15
d.      Stang/Tuas Penggerak (Regulator Wheel) ..................................... 16
e.       Pulley dan Belt ............................................................................... 17
f.       Inlet Adapter .................................................................................. 18
g.      Rangka Dudukan Turbin (Base Frame) ......................................... 19 
2.      Generator Sinkron ................................................................................ 20

BAB III. PERANCANGAN PLTMH
A.    Sosialisasi Kegiatan………………………………..........…...…………  25
B.     Perancangan Teknis
1.      Pengukuran Debit Aliran Sungai ....................................................... 29
2.      Pengukuran Jarak Lapang dan Beda Ketinggian ............................... 31
3.      Pemancangan Patok ........................................................................... 32
C.     Perancangan Kebutuhan Bahan dan Biaya ...…………………………..  33
   
BAB IV. PEMBANGUNAN PLTMH
A.    Persiapan Bahan dan Pengorganisasian Tenaga Kerja  ………………... 36
B.     Pembuatan Turbin
1.      Peralatan Yang Diperlukan ................................................................ 37
2.      Bahan Yang Diperlukan ..................................................................... 38
3.      Pembuatan Dinding Badan Turbin ..................................................... 39
4.      Pembuatan Rangka Pintu Kincir/Rotor .............................................. 40
5.      Pembuatan Dudukan Bearing ............................................................ 42
6.      Pembuatan Kincir/Rotor .................................................................... 44
7.      Pembuatan Piringan (Disk) ................................................................ 46
8.      Pembuatan bilah Rotor (Runner Blade) ............................................. 47
9.      Pembuatan As Kincir/Rotor ............................................................... 48
10.  Pembuatan Inlet Guide Vane ............................................................. 51
11.  Pembuatan Stang/Tuas Pengatur (Regulator Wheel) ......................... 54
12.  Pembuatan Inlet Adapter .................................................................... 55
13.  Pembuatan Saringan ........................................................................... 58
C.     Pembangunan Saluran Terbuka (Headrace) ……………..………..……  59
D.    Pembangunan Bak Pengendap/Penenang (Forebay) ………….…...…..  60
E.     Pembangunan Dudukan dan Pemasangan Turbin ...……………..…..  63
F.      Pemasangan Generator dan Belt .............................................................. 66
G.    Pemasangan Pipa Pesat (Penstock) .......................................................... 67
H.    Pembangunan Rumah Pembangkit (Power House) ................................. 68
I.       Pembangunan Bendungan ........................................................................ 69
J.       Perakitan Panel Distribusi ........................................................................ 70
K.    Pemasangan Jaringan Kabel Utama ......................................................... 75
L.     Pemasangan Instalasi Kabel Rumah ........................................................ 77
M.   Pengoperasian PLTMH ............................................................................ 79

BAB V.  PENGELOLAAN PLTMH   
A.    Pengelolaan
1.      Perencanaan ………..................…………………….…....…………  82
2.      Pengorganisasian ……………………..............…….……...………..  82
3.      Pengarahan ……………………........................……………..……...  83
4.      Pengawasan ........................................................................................  84
B.     Potensi Pengurus dan Pelanggan PLTMH
1.      Pengurus PLTMH …………….....……………………………...…..  85
2.      Tugas dan Fungsi Pengurus PLTMH
a.       Persyaratan Teknis Pengurus PLTMH .......................................... 86
b.      Tugas dan Fungsi Badan Pengawas PLTMH ............................... 87
c.       Tugas dan Fungsi Pengelola PLTMH ........................................... 87
d.      Kriteria Pengelola PLTMH ........................................................... 90
3.      Pelanggan PLTMH …………………...………………………….....  91
4.      Organisasi PLTMH ............................................................................. 91
C.     Sistem Pengelolaan PLTMH
1.      Pengelolaan Energi Listrik PLTMH
a.       Prinsip Pengelolaan Energi Listrik PLTMH ................................. 95
b.      Sosialisasi Pemanfaatan Energi Listrik PLTMH .......................... 97
2.      Aturan Penting Pengelolaan PLTMH …………………….…..….... 103
3.      Cara Penetapan Tarif Listrik PLTMH
a.       Harga Listrik Tanpa Meteran ...................................................... 105
b.      Harga Penggunaan Listrik (HP) .................................................. 106
4.      Prosedur Perhitungan Tarif Listrik PLTMH
a.       Tarif Dasar atau Iuran Langganan .............................................. 109
b.      Tarif Energi atau Tarif Konsumsi Listrik ................................... 109
c.       Tarif Tetap .................................................................................. 110
d.      Perubahan Tarif ........................................................................... 111
5.      On Grid dan Off Grid Energi Listrik PLTMH .................................. 111
6.      Peran Pengelola PLTMH
a.       Perbaikan Kualitas Hidup ........................................................... 113
b.      Pengembangan Kapasitas Organisasi Masyarakat ...................... 114
c.       Agen Pemberdayaan Masyarakat ................................................ 114
7.      Pembukuan Keuangan PLTMH
a.       Pengantar Pembukuan Keuangan ............................................... 114
b.      Identifikasi Biaya Investasi ......................................................... 115
c.       Identifikasi Jenis-Jenis Penerimaan dan Pengeluaran ................. 116
d.      Perhitungan Biaya Pengelolaan PLTMH .................................... 118
e.       Pembukuan (Bookkeeping) ......................................................... 121
f.       Perencanaan Pembukuan Keuangan ........................................... 125
g.      Pengeloaan Keuangan ................................................................. 137

LAMPIRAN 1 : CONTOH ANGGARAN DASAR PLTMH ..................................... 144
LAMPIRAN 2 : CONTOH ANGGARAN RUMAH TANGGA PLTMH ................. 151

DAFTAR PUSTAKA  …………………………………………………………......... 161

          Bagi sobat blogger yang berminat dengan buku ini, seperti biasa pihak penerbit telah menyediakan buku ini dalam 3 pilihan bentuk, yaitu :

1. Bentuk buku cetak pada kertas glossy 230 gram (cover), kertas HVS 70 gram (isi), ukuran 28 x 20 cm, setebal 168 halaman, hanya seharga Rp.100.000 belum termasuk ongkos kirim (pengiriman buku via JNE atau POS).


2. Bentuk ebook yang dikemas dalam kepingan CD/DVD dengan format file PDF, hanya seharga Rp.70.000 belum termasuk ongkos kirim (pengiriman CD/DVD via JNE atau POS).



3. Bentuk sofycopy ebook dengan format file PDF sebesar 8 MB, hanya seharga Rp.60.000 (ongkos kirim gratis, pengiriman via email).

Pemesanan hubungi KONTAK INI
Pembayaran transfer ke REKENING INI