• Home
  • About Me
  • Katalog
  • Video
  • Daftar Isi

Jumat, 07 Oktober 2016

Jenis-Jenis, Keuntungan dan Kerugian Energi Baru Terbarukan

          Energi merupakan hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, karena hampir semua kegiatan manusia modern saat ini tidak terlepas dari peralatan yang menggunakan energi, seperti komunikasi, transportasi, penerangan dan sebagainya. Energi yang paling umum digunakan hingga saat ini adalah energi yang berasal dari fosil (seperti minyak bumi dan batubara) dan sebagian kecil energi nuklir. Gas yang umum kita kenal dan digunakan saat ini adalah gas elpiji merupakan gas yang berasal dari minyak bumi juga atau yang disebut LPG (Liquefied Petroleum Gas). Selain itu ada juga gas yang disebut dengan gas alam cair atau LNG (Liquefied Natural Gas) yang antara lain digunakan juga untuk kebutuhan rumah tangga di perkotaan Indonesia.
          Energi yang berasal dari fosil terutama minyak bumi persediaannya sudah sangat terbatas, karena keterbatasan persedian tersebut dan permintaan semakin tinggi, maka harga akan semakin tinggi. Walaupun demikian manusia sebagai makhluk yang berakal tinggi sudah pasti akan berusaha untuk mencari pengganti energi fosil tersebut. Sebagai pengganti energi fosil yang pasti lambat laun akan habis adalah energi baru terbarukan (renewable and sustainable energy). Energi terbarukan dapat diartikan sebagai energi non fosil, dimana massa yang menyimpan energi tidak dihancurkan atau dikonsumsi ketika energi yang terkandung didalamnya dimanfaatkan.


A.  Jenis-Jenis Energi Baru Terbarukan

          Energi baru terbarukan dapat dibangkitkan atau diperoleh/dihasilkan dari 5 (lima) jenis tenaga atau energi seperti yang digambarkan pada skema berikut ini.

Gambar 1. Skema jenis-jenis energi baru terbarukan

1.  Energi Surya/Matahari (Solar Photovoltaic)
          Energi yang dihasilkan dari tenaga matahari ini dapat berupa panas dan listrik, untuk pembangkit listrik yang menggunakan tenaga matahari dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sinar matahari akan ditangkap oleh solar cell. Solar cell inilah yang nantinya akan memproses sinar matahari tersebut menjadi panas atau listrik. Berikut ini adalah contoh solar cell yang digunakan untuk menangkap sinar matahari dan merubahnya menjadi energi listrik.

Gambar 2. Contoh solar cell

2.  Energi Angin/Bayu (Wind Energy)
          Pembangkit listrik tenaga angin yang dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) adalah pembangkit listrik yang menggunakan tenaga angin untuk memutar turbin yang akan menghasilkan listrik. Sudah tentu lokasi yang ideal untuk pembangkit listrik ini adalah daerah-daerah yang banyak terdapat hembusan angin. Berikut ini adalah contoh kincir angin yang digunakan untuk mengubah tenaga angin menjadi energi listrik.

Gambar 3. Contoh kincir angin

3.  Energi Air (Hydro Power)
           Tenaga air biasanya digunakan untuk memutar turbin dan selanjutnya turbin akan memutar generator sebagai pembangkit energi listrik. Pemanfaatan tenaga air menjadi energi listrik dapat dengan skala besar, sedang maupun kecil. Pemanfaatan dengan skala besar adalah dengan menampung air terlebih dahulu yaitu dengan membuat bendungan, sehingga energi listrik yang dihasilkan dapat mencapai ribuan mega-watt yang mampu memenuhi kebutuhan listrik untuk kota-kota besar yang dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sedangkan pembangkit listrik tenaga air dengan skala kecil yang dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) hanya dapat menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan sebuah pabrik, sebuah desa atau sebuah perkampungan. Besarnya energi listrik yang dihasilkan PLTMH dapat diklasifikasikan seperti tertera pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Jenis PLTMH Berdasarkan Energi Listrik Yang Dihasilkan
No.
Jenis PLTMH
Besar Energi Listrik Yang Dihasilkan
1
Pico Hydro Power (PHP)
Maksimal 500 Watt (< 500 W)
2
Micro Hydro Power (MHP)
500 Watt s/d 100 KiloWatt
3
Mini Hydro Power (MnHP)
100 KiloWatt s/d 1 MegaWatt
4
Small Hydro Power (SHP)
1 MegaWatt s/d 10 MegaWatt

Berikut ini contoh bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTNH).

Gambar 4. Contoh bendungan PLTA

Gambar 5. Contoh PLTMH

4.  Energi Bio (Bio Energy)
         Pengertian bioenergi atau disebut juga biomassa adalah energi yang dihasilkan dari proses pembusukan bahan-bahan organik. Energi diperoleh melalui pemanfaatan biogas dari hasil proses pembusukan tadi. Proses pembusukan tersebut sebenarnya merupakan proses biokimia yang memerlukan beberapa komponen kimia dan yang perlu diketahui adalah bahwa proses ini hanya dapat berlangsung dalam kondisi anaerob atau tanpa kehadiran oksigen. Sebagai contoh sederhana adalah septic tank (tangki limbah kotoran manusia) yang terdapat di rumah tangga sekarang ini. Tanpa kita sadari di dalam tangki tersebut sebenarnya telah terjadi proses biokimia yang menghasilkan biogas dan dalam kondisi anaerob. Jenis-jenis energi yang dapat dihasilkan dari bioenergi antara lain adalah Panas, Biogas, Biofuel, Biodiesel, Biojet dan Gasifikasi.
      Biofuel dan biodiesel merupakan energi sebagai pengganti bahan bakar yang kita kenal selama ini (seperti bensin dan solar) dan dapat digunakan untuk bahan bakar mesin industri maupun kendaraan bermotor, sedangkan biojet adalah bahan bakar yang digunakan untuk pesawat terbang. Biojet untuk pesawat terbang saat ini telah diproduksi dan diuji coba dalam penerbangan oleh Agrisoma (salah satu lembaga penelitian dari Kanada) seperti contoh penerbangan yang ditampilkan pada gambar  dibawah ini. Bioenergi dapat diperoleh dari berbagai jenis bahan-bahan organik dan bahan-bahan organik tersebut dapat dimanfaatkan dari limbah, baik limbah industri, limbah pertanian, limbah perkebunan, limbah rumah tangga maupun kotoran manusia dan hewan. 

Gambar 6. Contoh reaktor biogas

Gambar 7. Penerbangan uji coba menggunakan biojet 

5.  Energi Lainnya
          Disamping ke-empat energi yang telah dijelaskan di atas, masih ada beberapa sumber energi yang dapat disebut juga energi terbarukan seperti energi panas bumi yaitu energi yang berasal dari sumber air panas yang berada di dalam perut bumi, energi pasang surut yaitu energi yang dihasilkan dengan memanfaatkan terjadinya pasang surut air laut biasanya terjadi dua kali dalam sehari, dan energi ombak yaitu energi yang dihasilkan dengan memanfaatkan ombak di lautan yang terjadi akibat adanya hembusan angin. Ketiga sumber energi ini hanya terdapat pada daerah atau tempat yang spesifik, sebagai contoh kita tidak dapat menghasilkan energi pasang surut, misalnya di daerah pegunungan.

B.  Keuntungan dan Kerugian Energi Baru Terbarukan
          Walaupun kelima jenis energi yang telah diuraikan di atas merupakan sumber energi yang selalu dapat diperbarui artinya tidak akan pernah habis selama bumi ini masih ada dan manusia mau memberdayakannya, akan tetapi energi tersebut tetap saja mempunyai keuntungan dan kerugian seperti yang disebutkan di bawah ini.

1.   Keuntungan Energi Baru Terbarukan :
a.    Dapat dihasilkan setiap saat secara terus-menerus.
b.    Mempunyai sumber ketersediaan bahan yang melimpah.
c.    Tidak merusak lingkungan (ramah lingkungan).
d.   Sumber energi dapat dimanfaatkan secara cuma-cuma dengan teknologi yang dapat disesuaikan dengan kemampuan manusia dan investasi.
e.  Tidak memerlukan perawatan yang banyak dan rumit dibandingkan dengan energi konvensional sehingga dapat mengurangi biaya operasional.
f.   Membantu mendorong peningkatan perekonomian dan menciptakan peluang kerja yang cukup luas.
g.   Tidak perlu mengimpor bahan bakar fosil sehingga negara dapat menghemat devisa serta dapat mandiri dalam bidang energi.
h.  Secara ekonomis lebih murah dibandingkan energi konvensional dalam jangka panjang.
i.     Bebas dari fluktuasi harga pasar terbuka bahan bakar fosil.
j.     Beberapa teknologi mudah digunakan ditempat-tempat terpencil.
k.   Distribusi energi bisa diproduksi diberbagai tempat, jadi tidak tersentral (terpusat) di tempat penghasil tambang minyak.

2.   Kerugian Energi Baru Terbarukan :
a.   Biaya awal besar, selain itu bahan baku sulit didapat jika di tempat dimana instalasi pembangkit biogas tidak terdapat perkebunan, misalnya jika ingin membangun reaktor biogas dari limbah sawit maka di sekitar tempat tersebut harus ada perkebunan sawit. Untuk mengatasi hal yang demikian, maka sebaiknya pembangunan reaktor biogas disesuaikan dengan ketersediaan pasokan.
b. Kehandalan pasokan energi terbarukan sebagian besar sangat tergantung pada kondisi cuaca.
c.   Saat ini penggunaan energi konvensional menghasilkan lebih banyak volume yang bisa digunakan dibandingkan dengan energi terbarukan, sehingga masih perlu waktu untuk melakukan konversi penggunaan teknologi dari energi konvensional ke energi terbarukan.
d. Masih kurangnya tradisi dan pengalaman penggunaan energi terbarukan karena merupakan teknologi yang masih dalam tahap berkembang.
e.   Masing-masing energi terbarukan memiliki kekurangan teknis dan sosialnya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar