• Home
  • About Me
  • Katalog
  • Video
  • Daftar Isi

Rabu, 24 Oktober 2012

Artikel :Metode E-Learning Sistem Blog

Metode E-Learning Sistem Blog
Oleh : Drs. Margiono Abd.*

Proses belajar mengajar adalah inti dari aktivitas dalam pembelajaran. Proses ini terjadinya interaksi antara guru dan siswa serta dipengaruhi oleh hubungan yang ada dalam proses tersebut. Hal ini menyebabkan metode belajar siswa juga dipengaruhi oleh metode pembelajaran dari gurunya. Seiring dengan perkembangan telekomunikasi yang ditandai dengan era digital, khususnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tentunya proses belajar mengajar juga menuntut adanya penyesuaian atau linearitas institusi pendidikan dalam penggunaan metode pembelajaran.
Dengan adanya realita tersebut, SMK jelas memerlukan sarana dan prasarana TIK untuk menunjang kegiatan pembelajaran, sehingga dapat menjawab tantangan-tantangan yang ada, khususnya untuk peningkatan kualitas proses belajar mengajar. Konsep pendidikan yang semakin berkembang dan banyak diadopsi belakangan ini adalah berbasis pada learning approach dan sedikit demi sedikit meninggalkan konsep sebelumnya yang berbasis teaching approach. Pada konsep learning approach penyampaian ilmu pengetahuan, dan juga termasuk proses pembelajaran adalah berbasis multimedia (elektronik). Konsep ini kemudian dikenal dengan sebutan e-learning yang membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi (content) maupun sistemnya. Konsep ini menjadi alternatif yang sepadan dengan konsep teaching approach yang berbasis pada guru.

Conventional Learning dan e-Learning
Menyikapi perkembangan TIK tersebut menyebabkan adanya perubahan dalam proses pembelajaran dari metode konvensional digantikan dengan metode e-learning. Menurut Fery Hadary (2012) metode conventional learning memiliki beberapa ciri, yaitu: 1) pembelajaran tergantung pada guru; 2) seluruh kegiatan pembelajaran terpusat di sekolah (tatap muka di ruangan kelas); 3) guru  merupakan sumber ilmu; 4) dibatasi jarak, ruang dan waktu; dan 5) harus memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai serta SDM guru yang memahami setiap materi kompetensi yang akan diajarkan. Sedangkan ciri-ciri e-learning adalah: 1) pembelajaran tidak tergantung kepada guru; 2) banyaknya sumber materi dan kemudahan akses; 3) peran guru hanya sebagai mediator dan fasilitator (pembimbing); 4) proses pembelajaran tidak terkendala jarak, ruang dan waktu.
Merujuk dari ciri-ciri kedua metode di atas, maka nge-Blog adalah sebuah alternatif metode proses pembelajaran yang bersifat e-learning dan berbasis student centered. SMK yang ingin menggunakan TIK untuk penerapan e-learning biasanya menggunakan Learning Management System (LMS) untuk menyediakan virtual classroom (ruang kelas maya) di internet. Virtual classroom yang dimiliki biasanya memiliki banyak metafora ruang kelas konvensional seperti forum diskusi, pengumpulan tugas, katalog/perpustakaan bahan ajar, katalog hyperlink dan lain sebagainya.

Haruskah Guru dan Siswa nge-Blog?
Selain untuk peningkatan proses pembelajaran, “keharusan” guru untuk nge-blog juga didasari pada beberapa alasan, menurut Yuyun Estriyanto (2008) dalam tulisan Fery Hadary (2012) nge-blog bagi seseorang adalah untuk alasan sebagai berikut: 1) personal branding, 2) soft marketing, 3) mengenalkan core kompetensi kepada publik, 4) memberikan pencerahan pemikiran kepada masyarakat.
Dari sejumlah alasan tersebut, alasan butir 1 sampai dengan 3 pada intinya sama dan saling berkaitan. Personal branding dibutuhkan untuk pembentukan citra diri, hal ini dilakukan untuk mengenalkan kompetensi guru tersebut kepada masyarakat. Tujuannya “Menjual diri” (dalam artian menjual profesionalitas). Ketika telah ditanamkan kepada masyarakat bahwa guru tersebut adalah ahli dalam suatu bidang, maka dengan sendirinya jika memerlukan tenaga ahli pada bidang tersebut maka guru tersebut yang akan dipercaya untuk melakukan pekerjaan itu. Sedangkan alasan butir ke-4, sebenarnya dilandasi dari suatu image yang ada pada masyarakat bahwa guru adalah profesi dengan strata sosial tinggi di masyarakat. Bukan pada kemampuan finansialnya, melainkan pada kompetensi akademiknya atau intelektualitasnya. Oleh karena itu, sangat pantas jika guru seharusnya bisa memberikan sumbang pemikiran mengenai kondisi sosial masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan berdasarkan pada latar belakang keilmuan yang dimilikinya.

Fungsi Blog dalam Sistem Terintegrasi
Jika guru dan siswa sudah memiliki blog, maka bagaimanakah mengintegrasikannya dalam proses pembelajaran? Ada beberapa cara, diantaranya para guru dapat menggunakan blog untuk menampilkan informasi kompetensi pembelajaran yang diampu, bahan ajar yang siap diunduh atau dicopy-paste oleh siswa, daftar hyperlink sebagai referensi, memberikan tugas dan menampilkan hasil penelitan guru. Karena fitur pada blog memungkinkan memberikan pertanyaan dan komentar atas artikel atau bahan ajar yang tersedia, maka komunikasi pun akan berjalan dua arah dan interaktif, baik dari guru ke siswa maupun sebaliknya.
Cara yang lain adalah ketika memberikan tugas kepada siswa, maka guru tersebut menerangkannya secara lisan dan kemudian menampilkannya pada blog. Siswa yang akan mengumpulkan tugas diminta untuk menampilkan jawaban dari tugas tersebut dalam blog pribadi siswa. Penilaian diberikan dengan cara guru tersebut mengunjungi blog siswa untuk kemudian memberikan komentar tentang jawaban tugas yang telah dibuat siswa. Cara ini memberikan arti bahwa siswa tidak hanya bertanggung jawab atas jawaban tugas tersebut kepada guru saja, melainkan bertanggung jawab pula kepada public (pengguna internet sebagai pembaca).
Integrasi blog dalam aktifitas proses belajar mengajar seperti ini secara otomatis meningkatkan waktu “tatap muka” guru dan siswa. Diskusi yang terekam dalam fasilitas komentar yang tersedia pada blog juga dapat menjadi referensi tambahan bagi para pembaca blog dan dapat dilihat serta dibaca kapan saja. Selain mendidik dan mengenalkan siswa menulis melalui media internet, cara-cara ini juga mampu mendongkrak nama institusi pendidikan di dunia maya serta melatih siswa untuk berbagi ilmu dengan orang lain.
Jika membicarakan blog sebagai suatu sub-sistem yang terintegrasi, maka akan ada pula beberapa sub-sistem yang saling berkaitan serta saling memengaruhi, karena proses pembelajaran merupakan sebuah input dan output yang diharapkan berkualitas. Agar proses pembelajaran yang diharapkan berkulaitas, tentunya sistem tersebut harus memiliki karakteristik sebagai system umpan balik (feedback system). Fungsi Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) maupun dinas pendidikan yang terkait diharapkan dapat menjamin mutu atau kualitas dari proses pembelajaran yang dihasilkan. Tentunya objek (plant) yang akan dikendalikan adalah content yang ada pada blog tersebut. Konsep ini juga menjelaskan bahwa blog yang merupakan salah salah satu sub-sistem sebenarnya digerakkan oleh guru dan siswa selaku pelaku aktivitas proses pembelajaran. Sedangkan kurikulum (silabus) yang berbasis pada capaian (ketuntasan) SKKD merupakan pengendalinya (controller).
Dengan adanya integrasi antar sub-sistem tersebut diharapkan akan menghasilkan proses pembelajaran yang tidak hanya melibatkan peran aktif guru, tetapi juga siswa, agar menghasilkan proses pembelajaran yang lebih berkualitas. Oleh karena itu, adakah alasan metode e-learning sistem nge-Blog ini untuk tidak diterapkan oleh guru ???

*Penulis adalah pengajar Teknik Ketenagalistrikan dan Teknik Broadcasting, SMK Negeri 2 Pontianak.

Anda bisa juga membaca artikel ini di Web SMKN 2 Pontianak dengan cara klik di bawah ini :
Artikel Metode E-Learning Sistem Blog

3 komentar: